Skip to content

Isra Mi’raj

Agustus 15, 2009

Kita ketahui bersama bahwa di seluruh dunia Islam setiap tahun, pada malam 27 Rajab slalu di peringati kisah Isra Mi’raj. Sebagai kenangan peristiwa bersejarah yg amat penting itu, kalau kita melihat bahwa Isra Mi’raj adalah suatu “perjalanan ilahiyah” yg tiada bandingnya, yg hanya berlaku satu kali didalam sejarah kemanusia’an didunia ini.Tiada pernah ada didalam sejarah kehidupan manusia suatu peristiwa yg berhak untuk dibanggakan dan di kagumi, diagungkan dan di anggap suci sebagaihalnya cerita Isra Mi’raj, yg menjadi Mu’jizat dan lambang kebesaran dan kehormatan bagi NABI dan RASUL yaitu MUHAMMAD SAW. Perjalanan suci ilahiyah itu terjadi pada bulan Rajab, sesudah Nabi Muhammad menjadi Rasul, tetapi beliau belum hijrah ke Madinah. Didalam tahun yg sama dan malam yg sama, yaitu 27 Rajab. Terjadinya perjalanan mulia itu adalah dengan tubuh dan jasmani rohani Nabi yg mulia tanpa berpisah ratu dari yg lain dan di waktu beliau terjaga/bangun. Peristiwa Isra nya dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa di Baitul Maqdis Palestina, sesudah itu beliau melakukan Mi’raj dari atas batu yg terapung di Baitul Maqdis dan menuju tujuh lapis langit, tingkat demi tingkat sampai di Sidratul Muntaha yg disampingnya terletak Jannatul Ma’wa [Syurga]. Disinilah Nabi mendengar goresan “Qalam” Illahi dan kalimah Allah disuatu tempat yg tak sanggup kita capai.

Adapun caranya tidaklah sampai pada akal manusia untuk melukiskanya, karena kejadiannya sangat jauh dari jangkauan pikiran, tidak ber-jism dan tidak berbanding. Bersih dari segala contoh perbandingan dengan segala mahluk manusia seperti kita ini pada umumnya. Tetapi kita yakin akan kebesaran Allah Swt. Peristiwa tunggal yg tiada duanya ini di peringati sampai kepada zaman kita sekarang ini. Tapi zaman sekarang manusia telah mengarungi ruang angkasa luas, sudah terjadinya bulan bulanan dan stasion stasion di udara. Ia tetap menjadi perangsangka untuk beriman kepada yg GHOIB, dan menjadi contoh yg paling tinggi bagi kelemahan manusia berhadapan dengan kodrat Illahi yg Maha Besar lagi Maha Menjadikan, yg segala wujud bertunduk kepada-Nya dengan cepat dari pada yg dapat kita duga dan kira kirakan.

Peristiwa ISRA’ meninggalkan pula suatu semboyan yg hidup yaitu “DARI MASJID KE MASJID. Semboyan ini merupakan suatu lambang yg hidup yg menanamkan dihati stiap Mukmin akan perasa’an kesucian pada setiap kali melakukan perjalanan dgn tujuan yg mulia. Baik didalam negeri maupun perjalanan keluar negeri. Disebutkan tempatnya yaitu, yaitu Masjid, tetapi dimaksud perbuatannya dan amalnya, yaitu bersujud. Diceritakan perjalanan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, adalah menjadi ibarat bagi suci bersihnya hati dan amal waktu mulai melangkah, dan tetap suci bersih selama dalam perjalanan sampai ketempat yg di tuju, bahkan sampai pulangnya kembali dengan selamat dalam suci bersih jua adanya.

Diwaktu segenap manusia hanyalah mengendarai Onta, kuda atau hewan hewan lainya, Nabi Muhammad SAW sudah dikaruniai oleh ALLAH SWT untuk menaiki KENDARA’AN yg belum ada dizamannya. Kenendara’an yg bernama “BURAQ” itu disebutkan dlm hadits “LANGKAHNYA SEJAUH JAUH MATA MEMANDANG” Ia naik meninggi lalu terbang cepat bagaikan cepatnya anak panah lepas dari busurnya, melampaui bukit2 Mekah dan melintasi padang sahara yg membentang luas, menuju utara dan ditemani oleh MALAIKAT JIBRIL. Berabad abad lamanya perjalanan yg misterius itu tdk dapat dipahamkan orang menurut semestinya. Sekedar beriman bahwa demikian adalah suatu Mu’jizat yg diberikan ALLAH SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Tetapi kemudian, stelah melalui percoba’an seorang sarjana penerbang Islam dari ANDALUSIA yg bernama ABBAS BIN FERNAS (190-260 H.) atau (805-873 M.) yg mulai menancapkan kemungkinan “MANUSIA TERBANG”. Kemudian Filosofi Islam “IBNU SIENA” membuat cerita fantasi “THE IS ARGUMENT OF THE FLYING MAN” ini adalah alasan tentang adanya manusia terbang

Setelah itu barulah muncul si TUKANG penghayal besar dari PERANCIS namanya JULES VERNE (1828-1905 M.) dengan buku buku FANTASInya tentang perjalanan ke Bulan dan lainya. Maka akhirnya barulah muncul si WRIGHT bersaudara dari OHIO AMRIK, yg pada tahun 1878 M dgn pembuatan kapal terbang pertamanya dan kemudian di ikuti oleh GRAF VON ZEPPELIN dari JERMAN pada tahun 1900 M. Untuk zaman kita yg modrn skarang ini, tidaklah sulit lagi untuk memahaminya kendara’an “BURAQ” yg dikendarai oleh NABI MUHAMMAD SAW dalam Isra nya pada abad yg telah berlalu itu. Jadi intinya begini, dijaman kita inilah terbukti sudah JANJI JANJI ALLAH SWT yg BERFIRMAN tentang soal kendara’an dan angkutan selain hewan hewan dahulu itu, yg berbunyi:
Dan Allah Pasti Akan Menjadikan (Kendara’an Kendara’an Lain) Yang Kalian Belum Mengetahuinya. [QS. An Nahl : ayat 8.]

Manakala kita membicarakan sebagai contoh, bahwa manusia sudah menginjakkan kakinya ke BULAN, maka harus kita ingat selalu akan PERBEDA’AN yg sangat jauh antara MI’RAJ nya NABI MUHAMMAD SAW yg telah sanggup menembus atau sampai ke LANGIT lapis ke TUJUH. Sementara PERJALANAN para ASTRONOT yg hanya mampu sampai ke BULAN. Sedangkan para ULAMA ULUNG masih mempertanyakan KESANGGUPAN karya wong AMRIK itu yg katanya ASTRONOTnya telah menginjakkan kakinya ke BULAN. Taukah anda seberapa panasnya SUHU di BULAN yg tanpa PEPOHONAN barang secuilpun? Padahal MATAHARI begitu dekat menyinari BULAN. Kita yg tinggal di PLANET BUMI yg TROPIS dan jauh dari MATAHARI saja PANASNYA Na’udzubillahi Minzhalik, apa lagi di BULAN. Yg kita hidup di salah satu PLANETNYA yaitu BUMI yg kita pijak ini. Adapun perjalanan NABI, MI’RAJ ke atas langit ke TUJUH sampai ke SIDRATUL MUNTAHA dan sampai ke JANNATUL MA’WA itu telah melewati MATAHARI “SUBHANALLAH ALLAHU AKBAR.” Sebagaimana sejarah itu telah di sebutkan didalam “KITAB KITAB SUCI” yg diturunkan kepada para NABI dan RASUL-NYA. Bukanlah langit langit menurut arti yg “LUGHOWY” atau bahasa sehari2, tetapi yg dimaksudkan ialah segala langit yg menjadi tempatnya para “MALAIKAT” dan “ARWAH2” yg suci, suatu alam “MALAKUT” yg tidak mungkin ditempuh oleh MANUSIA dan JIN, kecuali oleh orang yg mendapat KEHORMATAN dari ALLAH SWT untuk memasukinya. Titik puncak perjalanan yg terakhir ialah, Nabi Muhammad SAW diterima menghadap ALLAH SWT untuk melihat Zat-Nya yg Maha Luhur sbagai penghormatan yg terakhir baginya NABI diterima, dan kemudian di beri “AMANAH” untuk segala mahluk, yaitu mengerjakan “SHALAT LIMA WAKTU DALAM SEHARI SEMALAM.

2 Komentar leave one →
  1. hanifan permalink
    Agustus 30, 2009 8:04 am

    dam ini bagus banget duajempol emes buat ente😀

    • ghifarifaza permalink*
      Agustus 31, 2009 4:59 am

      makasih
      ane buat blog ne cuma iseng iseng

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: